Menu Click to open Menus
Home » Berita » Asal Muasal Wayang Golek di Indonesia

Asal Muasal Wayang Golek di Indonesia

(2208 Views) April 29, 2019 10:39 pm | Published by | No comment

Jakarta – Headline News – Wayang Golek, kata ini sangat familier atau umum ditelinga orang sunda, karena itulah secara langsung kita sepakat menamainya sebagai salah satu warisan kebudayaan Sunda.

Umumnya seni pertunjukan Wayang Trimarta atau tiga dimensi ini banyak dijumpai di wilayah Jawa Barat, mulai dari daerah Banten sampai Cirebon, atau bahkan daerah perbatasan dengan Jawa Tengah masih sering dipertunjukan kesenian ini.

Aslinya Wayang Golek terbuat dari boneka kayu yang dicat sedemikian rupa yang menjadi simbol tokoh Pewayangan, dan digunakan sebagai media untuk bercerita, edukasi, ataupun sarana dakwah melalui kisah sejarah Jawa, tentang penyebaran Islam, atau cerita legenda Mahabharata, dan lain-lain.

Sayangnya pada masa sekarang ini, seni Wayang Golek ini sudah mulai terpinggirkan bahkan nyaris hilang karena sudah mulai termakan oleh jaman yang serba canggih teknologinya seperti tv, bioskop, youtube, dan media sosial lewat internet lainnya.

KESENIAN WAYANG GOLEK TRADISIONAL YANG NYARIS HILANG

Tapi tidak bisa dipungkiri bahwa Wayang Golek merupakan seni rakyat yang sangat penting dan memiliki nilai sejarah. Untuk mencintai budaya Wayang Golek kita perlu mengenal lebih jauh kesenian ini melalui sejarahnya.

1. Sejarah Asal-Usul Wayang Golek

Asal Muasal seni Wayang Golek tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Wayang Kulit, bermula dari penyebaran Wayang Kulit di Jawa Barat adalah pada masa pemerintahan Raden Patah dari kerajaan Demak, kemudian disebarluaskan para Wali Sanga. Termasuk Sunan Gunung Jati yang pada tahun 1568 memegang kendali pemerintahan di kasultanan Cirebon. Beliau memanfaatkan pagelaran Wayang Kulit sebagai media dakwah untuk memperluas penyebaran agama Islam

2. Perkembangan Wayang golek Berbahasa Jawa

Bermula dari Sunan Kudus lah yang memperkenalkan budaya wayang yang terbuat dari kayu, yang kemudian disebut sebagai wayang golek. karena pada dasarnya Wayang Golek adalah hasil dari perkembangan dari Wayang Kulit. Sunan Kudus membuat wayang dari material kayu yang kemudian dipentaskan pada saat siang hari. hal tersebut ahkirnya melahirkan teori awal munculnya kesenian wayang kayu yang lahir dan berkembang di wilayah pesisir utara Pulau Jawa pada awal abad ke-17 dimana kerajaan Islam tertua di Pulau Jawa yaitu kesultanan Demak tumbuh disana. Menurut legenda yang berkembang disinilah Sultan Kudus menggunakan wayang golek dengan dialog bahasa jawa sebagai media untuk menyebarkan islam dimasyarakat.


3. Perkembangan Wayang Golek di Tanah Pasundan

Seni Wayang Golek ahkirnya melaju pesat, kesenian Wayang Golek berbahasa Jawa pelan pelan mulai bergeser ketenaranya dengan kesenian Wayang Golek berbahasa Sunda, bisa dibuktikan dominasi Wayang Golek berbahasa Sunda pada abad ke-17 pada masa ekspansi Kesultanan Mataram.

Awalnya Pertunjukan seni ini pada waktu itu masih mewarisi beberapa pengaruh Hindu sebagai bekas wilayah kerajaan Sunda Pajajaran. lalu Pakem dan alur ceritanya berkembang sesuai dengan versi kejawen yang menjurus kearah perbedaan nama tokoh.

Lalu bergeser lagi  dalam pertunjukan Wayang Golek berbahas Sunda yang ahkirnya dikenal sebagai wayang Golek Purwa.

Pada waktu kabupaten-kabupaten di Jawa Barat ada dibawah pemerintahan Mataram, ketika masa pemerintahan Sultan Agung (1601-1635), penggemar seni pewayang meningkat, bukan hanya dari kalangan biasa bahkan banyak bangsawan sunda yang datang ke Mataram untuk mepelajari bahasa Jawa dalam konteks kepentingan pemerintahan, dalam penyebaranya Wayang Golek tumbuh dengan membebaskan pemakaian bahasa masing-masing. Hasilnya seni pewayangan berkembang dan menjangakau seluruh daerah Jawa Barat.

Menurut penjelasan Dr. Th. Pigeaud, bahwa seorang bupati Sumedang mendapat gagasan untuk membuat wayang golek yang bentuknya menyerupai wayang kulit dalam lakon Ramayana dan mahabharata. Perubahan dari bentuk wayang kulit menjadi golek terjadi secara berangsur-angsur, hal ini terjadi sekitar abad 18-19. Hal ini diamini dengan adanya berita bahwa pada abad ke-18 atau sekitar tahun 1794-1829 Dalem bupati Bandung (Karanganyar), menugaskan Ki Darman seorang pegiat wayang kulit asal Tegal Jawa tengah yang berdomisili di Cibiru, Jawa Barat untuk membuat wayang golek purwa.

Kemudian pada abad ke-20 berubahan-perubahan bentuk Wayang Golek menjadi semakin baik dan sempurna. Hasilnya dapat dilihat pada perkembangan wayang golek yang sering kita jumpai pada masa sekarang ini, wayang golek yang akrab kita temui tersebut adalah penyempurnaan bentuk dari wayang Golek Purwa Sunda. Dalam perjalanan sejarah selanjutnya, pagelaran Wayang Golek mula-mula ekslusif dilaksanakan oleh kaum bangsawan, terutama para penguasa seperti bupati di Jawa Barat mempunyai cukup andil dalam perkebangan kesenian Wayang Golek di Jawa Barat.

Pada awalnya pertunjukan Wayang Golek didelenggaran oleh para kaum Priyayi (kaum bangsawan sunda) dilingkungan Istana atau Kabupaten baik untuk kepentingan pribadi ataupun keperluan umum. Fungsi pertujukan pada kala itu masih bergantung pada permintaan para bangsawan. pagelaran seni Wayang Golek memiliki tujuan bermacam-macam, dari mulai yang sifatnya ritual, ataupun dalam rangka tontonan atau hiburan semata. Pertunjukan yang bersifat ritual sudah jarang dipentaskan, misalnya saja pada upacara sedkah laut atau sedekah bumi, yang biasanya hanya dipentaskan setahun sekali.

Pementasan yang masih bertahan sampai sekarang adalah pertunjukan seni Wayang Golek untuk hiburan, bisanya diselenggarakan untuk memeriahkan acara peringatan kabupaten, hari kemerdekan Indonesia, Syukura, hajatan, dan lainnya. Walaupun demikian, tak berarti esensi yang mengandung nilai tuntunan sudah hilang, dalam penuturan lakon setiap tokoh pewayangan nilai-nilai pembelajaran selalu ada.

4. Perkembangan Wayang Golek Modern

Dalam perkembangan wayang golek di awal tahun 70-an, seni pertunjukan ini mulai menghadirkan bintang Pesinden yang terkenal yang bahkan ketenaranya melebihi seorang dalang. Karena itulah akhirnya Pesinden pada saat ini menjadi wajib dalam pagelaran wayang sebagai pelengkapan percakapan dalang melalui para lakon wayang.

Bagi seniman wayang yang masih tetap mempertahankan nilai tuntunan, mereka tetap berupaya mengembangan daya kreatifitasnya melalui keseimbangan antara penggarapan segi tontonan yang menuntun penikmatnya. Wadah, perangkat kasar, meliputi penggarapan unsur-unsur pedalangan (penggarapan tokoh, lakon, alur, sastra pedalangan, sabet, iringan, dan lain-lain). Isi dari pementasan wayang golek sejatinya wajib sampai kepada penikmatnya melalui esensi atau rohani serta pesan moral.

Kini selain sebagai seni pertunjukan wayang, kerajinan seni wayang golek juga dikonversasi sebagai cindra mata oleh para wisatawan baik untuk dalam negri maupun mancanegara, tokoh-tokoh seperti Rama, Sinta, Arjuna, Srikandi serta tokoh Punakawan seperti Semar dan Cepot bisa dibawa pulang sebagai hiasan atau benda pajangan interior.

PENTAS WAYANG GOLEK OLEH SANG DALANG

Pada tahun 2015 perkembangan Wayang Golek mulai pesat lagi, sejauh ini banyak seniman-seniman yang berani bereksperimen agar dapat keluar dari pakem cerita pewayangan yang sudah ada saat ini dan mulai menggunakan instrumen musik modern dalam pertunjukan seni wayang golek.

Tulisan ini sudah pernah tayang di ilmuseni.com dengan judul Sejarah Wayang Golek dari Sunda Jawa Barat.

Diceritakan kembali oleh Muhammad Irwansyah pemerhati sejarah dan seni dari

Forum Komunikasi Kebudayaan Traisional Nusantara.

FORUM KOMUNIKASI KEBUDAYAAN TRADISIONAL NUSANTARA
Categorised in: ,

No comment for Asal Muasal Wayang Golek di Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *