Menu Click to open Menus
Home » Headline » GJI ‘Lockdown’ Balaikota DKI Sebagai Simbolis STOP Langkah Anies

GJI ‘Lockdown’ Balaikota DKI Sebagai Simbolis STOP Langkah Anies

(131 Views) March 18, 2020 8:02 pm | Published by | No comment

JAKARTA, HEADLINE NEWS – Terkait Pencegahan Penyebaran Virus Corona yang biasa kita sebut Covid-19, Gerakan Rabu Orange bersama Gerakan Jaga Indonesia (GJI) menggelar aksi untuk kesekian kalinya. Bukan bermaksud mengabaikan himbauan pemerintah untuk melakukan Social Distance, tapi karena ada Virus yang lebih jahat yang harus dibasmi, yakni keresahan dan kepanikan sosial yang justru membuka peluang cepatnya penyebaran Virus Covid-19 ini, hingga terjadinya spekulasi politik, karena mengingat konsekuensi ekonominya sangat tinggi.

GJI menegaskan bahwa Tidak ada wilayah yang perlu di LOCKDOWN. Cukup dengan menyerukan INDONESIA UNITED. Indonesia bersatu menghadapi virus Corona, pemerintah bersama rakyat dan pihak-pihak terkait yang berkompeten, bahu-membahu membangun kesadaran tentang bahaya dan cara mencegah serta penanggulan virus Corona dengan cara sederhana dan mudah dipahami rakyat.

“Pemerintah Pusat maupun daerah seharusnya berkoordinasi dengan baik, melakukan pendampingan rakyat, memberi info pencegahan dan penanganan yang benar, menyediakan sarana pencegahan seperti masker dan desinfektan secara gratis ditempat-tempat yang berpotensi besar penyebaran Virus. Bukan seperti yang terjadi belum lama ini, Pemda DKI melakukan tindakan sepihak pencegahan dengan cara semaunya sendiri, tidak ada koordinasi dengan pemerintah pusat, disertai ramalan yang beraroma menyesatkan dan menakut-nakuti, sehingga menimbulkan keresahan dan kepanikan warga Ibu Kota,” ungkap Budi Jarot selaku Jenlap aksi.

Apakah tindakan Anis ini bagian dari skenario besar untuk melakukan LOCKDOWN INDONESIA yang bertujuan melumpuhkan EKONOMI NASIONAL dan berujung pada perebutan kekuasaan ?

Wow.. jangan-jangan memang ada konspirasi jahat ke arah itu.. semakin jelas niat busuk itu terbaca ketika mantan wapres justru menganjurkan Pemerintah Jokowi untuk melakukan Lockdown Indonesia.

Artinya, permasalah Virus Corona bisa saja dijadikan komoditi politik untuk memenuhi syahwat politik kelompok tertentu. Kami yakin hal ini hanya terjadi di Indonesia, seiring terlupakan Sila ke-2 yakni Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab.

“Demi untuk Kepentingan NKRI, Kami gelar aksi LockDown Balaikota, dimana tempat Penyebaran Ramalan yang menyesatkan berada…,” seru orator dengan semangat berapi-api.

Sudah jelas di mata rakyat, Anis Baswedan telah melakukan KEJAHATAN LINGKUNGAN HIDUP lewat program Revitalisasi MONAS dan TAMAN ISMAIL MARZUKI (TIM) yang dilakukan secara sepihak dengan mengabaikan penghormatan dan penghargaan terhadap warisan budaya pendahulu. Dia telah menabrak pasal 89 ayat 1 UU no. 32 tahun 2009 tentang Lingkungan Hidup, Kepres no. 25 tahun 1995, dan Pembohongan Publik atas perizinan penyelenggaran Formula E di Area Monas.

Dari pelanggaran fatal di atas, GERAKAN RABU ORANGE menuntut Anis memenuhi 5 Tuntutan Revolusi Jakarta, antaralain :

  1. Stop Revitalisasi Monas dan TIM (rumah budaya dan seni);
  2. Batalkan Formula E di Area Monas;
  3. Tanggungjawabkan kebohongan publik atas izin Formula E dan TIM serta Cagar Budaya (TACB);
  4. Tanggungjawabkan Banjir yang menimbulkan kerugian materiil dan korban jiwa;
  5. Dengan kebesaran hati, Anis hendaknya LENGSER dari kedudukannya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Diakhir orasi, Gerakan Jaga Indonesia (GJI) bersama Gerakan Orange memasang ‘Cross line’ di pintu masuk dan keluar balaikota sebagai simbol untuk STOP langkah Anies Baswedan sebagai Gubernur DKI.

(Red/GRPB).

No comment for GJI ‘Lockdown’ Balaikota DKI Sebagai Simbolis STOP Langkah Anies

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *