Menu Click to open Menus
Home » Artikel » Novy Viky : Arti Pancasila Sebenarnya Sebagai Dasar Negara atau Ideologi, Berikut Kupasannya

Novy Viky : Arti Pancasila Sebenarnya Sebagai Dasar Negara atau Ideologi, Berikut Kupasannya

(685 Views) October 23, 2019 1:53 am | Published by | 1 Comment
Novy Viky Akihary, Ketua Umum Forum Kebhinnekaan Indonesia (FKI).

JAKARTA, HEADLINE NEWS – Pancasila yang kita kenal selama ini adalah Falsafah serta Dasar Negara Republik Indonesia, karena itu merupakan bentuk utuh dari apa yang disampaikan Bung Karno dalam pidatonya pada tanggal 1 juni 1945 di muka sidang terbuka Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai, atau yang kita kenal dengan nama Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI).

Maksud pidato tersebut adalah untuk menjawab pertanyaan KRT. Radjiman Widiodiningrat selaku ketua BPUPKI kepada para anggota BPUPKI, yang bunyinya “Negara Indonesia Merdeka yang kita bentuk, apa dasarnya ?”

Dikutip dari sejarah bangsa menjelaskan bahwa pada awal pidatonya, Bung Karno mengajukan pertanyaan kepada sidang terbuka BPUPKI “Saudara-saudara apakah yang menjadikan Indonesia merdeka?” ucapnya.

Karena semua yang hadir pada diam, Bung Karno pun melanjutkan pidatonya, “Didalam tahun 1933 saya telah menulis satu risalah bernama ‘Mencapai Indonesia Merdeka’, yang intinya menekankan bahwa kemerdekaan, politieke onafhankelijkheid, political independence, yang mana merupakan satu jembatan emas dan di seberang jembatan itulah kita sempurnakan masyarakat Indonesia, dengan cara menyusunnya menjadi gagah, kuat, kekal dan abadi,” katanya pada waktu itu.

Bung Karno juga mengatakan bahwa dasar (philosopischegrondslag) atau diatas dasar apa (welthanschauung) caranya mendirikan negara Indonesia ini. Tiga dasar tersebut adalah :

Pertama, kebangsaan dan internasionalisme, kebangsaan dan perikemanusiaan, lalu diperas menjadi satu, itulah yang dahulu dinamakan Sosio – Nasionalisme.

Kedua, Kemudian Prinsip ke-tiga dan ke-empat yang menjadi dua dasar yang kedua yakni bukan demokrasi barat, tetapi politieke – economische demokratie yaitu politieke demokratie dengan sociale rechtvaardigheid, atau demokrasi dengan kesejahteraan, yang kemudian dinamakan “Sosio Demokrasi”.

Ketiga, Prinsip yang ke-lima sebagai dasar ke-tiga menyusun Indonesia Merdeka dengan ber-KeTuhanan Yang Maha Esa.

Bung Karno menegaskan hendaknya negara Indonesia menjadi negara yang tiap-tiap orangnya dapat ber Tuhan dengan cara yang leluasa. Segenap rakyat hendaknya ber Tuhan secara kebydayaan, yakni dengan tiada “egoisme agama”.

Memang kalau mengutip daridapa pidato Bung Karno pada sidang terbuka BPUPKI diatas ketika beliau menyampaikan tiga prinsip dari dasar tersebut atau yang kita kenal sebagai Trisila, maka jelas nampak adanya unsur ideologi Marhaen yang dimasukan, sebagai pengayaan terhadap Pancasila artinya sila ke-dua dan ke-tiga diperas menjadi “Sosio Nasionalis”, sila ke-empat dan ke-lima menjadi “Sosio Demokrasi” sementara “KeTuhanan Yang Maha Esa” mendapat tempat Khusus di sila Pertama. Dalam kesempatan lain Bung karno juga menerangkan bahwa Trisila kalau diperas lagi maka menjadi Ekasila atau Gotongroyong (prinsip dasar ideologi Marhanisme).

Dari sisi Estimologi definisi ideologi bermakna antara lain :

  1. Ideologi adalah studi terhadap ide-ide atau pemikiran tertentu. (Antoine Destutt de Tracy).
  2. Ideologi adalah inti dari seluruh pemikiran manusia. (Rene Descartes).
  3. Ideologi adalah keseluruhan sistem berpikir dan sikap dasar rohaniah sebuah gerakan, kelompok sosial atau individu. (Frans Magnis Suseno).
  4. Ideologi adalah sintesis pemikiran mendasar dari suatu konsep hidup. (Francis Bacon).
  5. Ideologi adalah merupakan alat untuk mencapai kesetaraan dan kesejahteraan bersama dalam masyarakat. (Karl Marx).
  6. Mabda’ adalah suatu aqidah aqiyah yang melahirkan peraturan. Yang dimaksud aqidah adalah pemikiran yang menyeluruh tentang alam semesta, manusia dan hidup, serta apa yang ada sebelum dan setelah kehidupan. Di samping hubungannya dengan Zat yang ada sebelum dan sesudah alam kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain Mabda’ adalah suatu ide dasar yang menyeluruh mengenai alam semesta, manusia dan hidup. Mencakup dua bagian yaitu, fikrah dan thariqah. (Taqiyuddin An-nabhani).

Dan yang paling menarik adalah pemikiran (Ali Syariati) : Pengertian ideologi adalah sebagai keyakinan-keyakinan dan gagasan-gagasan yang ditaati oleh suatu kelompok, suatu kelas sosial. Suatu bangsa, atau suatu ras tertentu.

Melihat dan menperhatikan estimologi kata Ideologi yang disampaikan oleh para ahli dan para pemikir dizamannya maka dapat kita ambil kesimpulan bahwa ideologi merupakan Dasar pemikiran yang bersumber dari ide-ide dan gagasan-gagasan untuk kepentingan politik dan ekonomi suatu bangsa, kelompok, kaum, ras dan agama tertentu, dengan kata lain ideologi adalah jalan untuk mencapai kekuasaan politik dan ekonomi untuk kepentingan kelompok masyarakat tertentu berdasarkan ras, kesamaan politik dan ekonomi, kelompok sosial atau bagian dari agama tertentu.

Dari uraian tersebut diatas, Pancasila bisa dijadikan ideologi, sebab kalau kita tinjau dari sisi Etimologi Ideologi yang bersala dari kata Idea dan Logos, adalah kumpulan ide dan gagasan-gagasan, dan Pancasila tentu merupakan kumpulan ide dan gagasan-gagasan besar Bung Karno. Tetapi kalau kita membaca arah pemikiran Bung Karno maka Pancasila tidak pernah dijadikan sebagai ideologi politik atau ideologi negara sekalipun, walaupun Bung Karno dengan terang benderang memasukan unsur ideologi Marhaenisme kedalam Pancasila lewat Trisila atau Ekasila.

Kalau kita mau cermat dan sedikit cerdas memperhatikan, maka terlihat bahwa Bung Karno ingin menjadikan Pancasila sebagai Falsafah Bangsa serta Dasar negara bagi Indonesia Merdeka, dan Marhaenisme sebagai ideologi politiknya.

Ketika Pancasila dijadikan sebagai ideologi, dengan tinjauan secara etimologi maupun estimologi, maka kita tidak boleh alergi terhadap munculnya ideologi kompetitor bagi Pancasila, dengan kata lain tentu kita harus terima masuknya ideologi atau berkembangnya ideologi lain di luar Pancasila, seperti Komunisme Khilafah, Marhaenisme, Sosialisme ataupun Totalisme. Alasan yang paling logis adalah karena Ideologi tidak bisa dipaksakan terhadap kelompok lain dalam suatu negara dengan ideologi berbeda.

Kalau diibaratkan Pancasila adalah sebuah rumah besar dengan halaman yang luas, maka didalam rumah tersebut ada ruang atau kamar-kamar yang namanya ideologi, dan di halaman nya yang luas tumbuh dan berkembang agama-agama serta beragam budaya, dan pagarnya adalah UUD 45.

Maka dari itu, Pancasila harus dijadikan kembali sebagai Dasar Negara bukan sebagai ideologi walau dengan istilah ideologi negara sekalipun, melainkan berdiri diatas semua Ideologi, serta menjadi payung bagi semua budaya, menjamin semua agama menjalankan ibadah dan ritualnya dengan aman tanpa ada gangguan. Mendorong dan membina kelompok masyarakat untuk berkumpul memikirkan kepentingan Indonesia mencapai keunggulan di segala bidang.

Ketika Pancasila menjadi seutuhnya dasar negara, maka ideologi yang merupakan kamar dari rumah besar, adalah alat politk untuk mencapai tujuan kekuasaan. Maka Pancasila sebagai rumah besar dapat menberi rambu apabila ada ideologi yang dirasakan menyimpang daripada konsep dasar sebuah rumah, tentu ideologi tersebut dapat di kick-out dari rumah besar.

Oleh karenanya, saya mengusulkan Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) segera merubah nama dan orientasi garapan, dari yang tadinya ingin melakukan pembinaan terhadap ideologi Pancasila, menjadi bagaimana mengenalkan Pancasila sebagai dasar negara yang berdiri diatas semua ideologi politik yang ada. Kemudian BPIP juga harus merumuskan tafsir baku terhadap Pancasila sehingga Pancasila tidak multi tafsir dan dapat dijadikan sebagai alat kekuasaan, sebagaimana apa yang telah dilakukan Pemerintahan Orde Baru terhadap Pancasila selam 32 tahun lamanya.

Mari kita mulai Gerakan Kembalikan Pancasila Sebagai Dasar Negara!

Ditulis oleh : Novy Viky Akihary, Ketua Umum Forum Kebhinnekaan Indonesia (FKI). Jakarta, 22 September 2019.

Reporter : Putri.

Tags: , ,
Categorised in:

1 Comment for Novy Viky : Arti Pancasila Sebenarnya Sebagai Dasar Negara atau Ideologi, Berikut Kupasannya

  • Rahim Akil says:

    Satu hal yg paling penting adlh Pancasila jgn ikon simbolik saja, tapi ia betul-betul harus dihadirkan dalam kebijakan pada segala bentuk kehidupan berbangsa dan bernegara.
    Pancasila betul-betul dijadikan falsafah, bukan tempat berlindung dan topeng seperti yg terjadi selama ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *