Menu Click to open Menus
Home » Berita » Peri Bagi Korban Perdagangan Perempuan dan Gelandangan dari Ati Soetji

Peri Bagi Korban Perdagangan Perempuan dan Gelandangan dari Ati Soetji

(378 Views) June 29, 2019 8:29 pm | Published by | No comment

Jakarta – Headline News – Nama Kartini sudah sangat populer di belahan bumi Indonesia sebagai tokoh emansipasi wanita asli jawa pribumi pada zaman penjajahan Belanda.

Ternyata selain Kartini yang asli Jawa pribumi, Indonesia juga mempunyai seorang tokoh Wanita Tionghoa yang bernama Nyonya Lie Tian Tjoen yang membela nasib kehidupan para kaum perempuan yang menjadi korban perdagangan.

Nyonya Lie Tjian Tjoen nama aslinya adalah Auw Tjoei Lan.

Putri ketiga yang lahir di tahun 1889, dari seorang Kapitan kaya raya di Majalengka yang bernama Auw Seng Hoe.

Kapitan Auw Seng Hoe, selain memiliki pabrik gula, juga mendirikan panti sosial buat para gelandangan dan tunanetra.
Gadis remaja Auw Tjoei Lan, sudah terbiasa mengurusi kebutuhan hidup para tunanetra di panti sosial milik ayahnya, semisal memeriksa makanan yang akan disediakan, jika menu makanan itu adalah ikan. Jangan sampai masih ada tulang ikan yang belum dibuang dari daging ikan.

Di usia 17 tahun, pada 1906, menikah dengan anak dari seorang mayor di Batavia, yang bernama Lie Tjian Tjoen.
Sejak itu, maka beliau lebih dikenal dengan panggilan Nyonya Lie Tjian Tjoen, atau Nyonya Lie……

Nyonya Lie suatu ketika bertemu dengan Dr Zigman, yang mengajaknya untuk aktif dan duduk sebagai pengurus dari Yayasan Ati Soetji.
Di Yayasan ini, Nyonya Lie menangani kasus kasus perdagangan kaum perempuan dari Tiongkok ke wilayah Asia Tenggara.
Karena ekonomi sulit, maka pada waktu itu banyak kasus perempuan yang dijual dan dijadikan sebagai pelacur.

Dalam konferensi Liga Bangsa Bangsa (sebelum ada PBB ), Nyonya Lie membuat makalah tentang tujuannya merehabilitasi sekaligus merubah nasib para perempuan korban perdagangan ini.

Dia juga mengusulkan pentingnya dibentuk semacam polisi perempuan.

Pada suatu hari, ketika Nyonya Lie sudah tinggal di rumah sendiri, di Jalan Kramat, dia mendapati seorang bayi yang baru dilahirkan,di geletakan di teras rumahnya. Beberapa kali pula, seorang perawat, membawa bayi yang baru lahir ke rumahnya dan meminta bantuannya untuk merawat anak tersebut. Kasus-kasus seperti ini menggugahnya untuk mendirikan sebuah rumah yatim piatu /panti asuhan.

Tahun 1913, Nyonya Lie mendirikan Panti Asuhan yang diberi nama Ati Soetji atau Po Liang Kiok.

Tahun 1929, Panti Asuhan tersebut pindah ke gedung baru, di daerah Kebon Sirih, disatu jalan yang akhirnya dikasih nama jalan Ati Soetji.

Tahun 1937, Nyonya Lie menerima tanda penghormatan dari Pemerintah Belanda, berupa Bintang Ridder In De Orde Van Oranje Nasaau.
Nyonya Lie adalah perempuan Tionghoa pertama yang menerima penghormatan setinggi itu dari Pemerintah Belanda.
Ini karena dedikasi nya dalam hal membela nasib kehidupan para perempuan yang menjadi korban perdagangan dan juga karena sumbangsihnya yang besar, buat anak anak yatim piatu.

Hingga sekarang, sesuai dengan perubahan ejaan Bahasa Indonesia, Yayasan Hati Suci tetap menempati Gedung di Jalan Hati Suci, Kebon Sirih – Jakarta. Malah, berkembang dengan menjadi Sekolah Hati Suci yang cukup terkenal.

Nyonya Lie Tjian Tjoen, patut kita banggakan.
Tokoh perempuan Tionghoa di Indonesia yang juga memperjuangkan hak hak kaum perempuan, seperti Raden Ajeng Kartini…….

Reporter : Gunadi S

Categorised in: , ,

No comment for Peri Bagi Korban Perdagangan Perempuan dan Gelandangan dari Ati Soetji

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *