Menu Click to open Menus
Home » Berita » Politik » Seminar Nasional : Bersihkan Radikalisme & Korupsi di Badan BUMN

Seminar Nasional : Bersihkan Radikalisme & Korupsi di Badan BUMN

(191 Views) August 12, 2019 4:13 pm | Published by | No comment

JAKARTA, INDONESIA HEADLINE NEWS – Menyinggung soal Bebersih BUMN dari Radikalisme dan Korupsi, Benahi Bumdes menjadi perusahaan Big Data Center Desa, melalui wadah Rumah millenial Indonesia, Inovator 4.0 Indonesia bekerjasama dengan Waskita selenggarakan Seminar Nasional. Bertempat di Gedung Joeang 45 Jakarta Pusat. Senin (12/08).

Acara yang diinisiatori oleh Sahat MP Sinurat selaku Pendiri rumah millenial Indonesia ini menghadirkan beberapa narasumber, diantaranya adalah :

  1. Budiman Sudjatmiko, Ketua Umum Inovator 4.0 dan juga termasuk salah satu anggota DPR RI.
  2. Hotasi Nababan, Pemerhati BUMN.
  3. Fadjroel Rachman, Komisaris Utama PT Adhi Karya.
  4. Irendra Radjawali, inovator 4.0.
  5. Saddam Al_Jihad, Ketua Umum PB HMI.
  6. Taufik Madjid, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat Desa.
  7. KH.Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU.

Yang seharusnya, BUMN mjd kepanjangan tagan negara dalam mewujudkan cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun celakanya, jangankan mencerdaskan masyarakat, tapi malah di badan BUMN itu sndri muncul radikalisme. BUMN punya tanggungjawab bersama elemen masyarakat untuk menangkal radikalisme dan membenahi sistem di badan BUMN,” ujar Taufik Madjid, Dirjen Pembangunan dan Pemberdayaan masyarakat Desa.

Sejak berdirinya Indonesia sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia terus-menerus ditimpa ujian yang berat dan besar oleh penyakit seperti intoleransi dan radikalisme yang bisa meningkat kepada terorisme negara yang sehat. Seperti tubuh yang gizinya cukup lebih dan tidak kurang, dipenuhi penyakit seperti intoleransi sebagian orang di negeri ini tidak siap untuk Perbedaan.

Perbedaan pilihan politik kadang-kadang tidak ada toleransi atas pilihan-pilihan yang berbeda, ada dua macam perbedaan yang pertama perbedaan yang bisa ditoleransi (perbedaan yang bersifat variatif) dan perbedaan yang tidak boleh ditoleransi bahkan perbedaan ini harus dihapuskan.

“Namun nyatanya toleransi muncul dari kelompok-kelompok intoleran ketika pilihan berbeda maka kemudian saling mengecam saling menghujat perkataan-perkataan yang tidak santun yang menyakiti 1 anak bangsa terhadap anak bangsa yang pilihannya berbeda muncul demikian rupa kita masih mengingat 01 dijuluki 02 dijuluki kampret,” ujar Saddam Al-Jihad, ketua umum PB HMI.

“Dalam Seminar ini saya anjurkan kembali ke 0.3 yakni Persatuan Indonesia kalau perlu kalau perlu kampret dan kecebong ini menikah supaya melahirkan anak namanya kecepret, nah ini perbedaan-perbedaan semacam ini oleh kelompok-kelompok orang yang intoleran ini menjadi persoalan yang besar, tidak menerima perbedaan-perbedaan yang sifatnya variatif. Dari mereka yang memiliki sifat intoleran meningkat kepada kelompok yang memiliki ideologi radikalisme-radikalisme,” ungkap KH.Ahmad Ishomuddin, Rais Syuriah PBNU.

Menurutnya, Indonesia demokrasi yang dipasarkan bangsa kafir ke negeri-negeri kaum muslim itu adalah sistem kekafiran ada orang Indonesia. Bangsa Indonesia yang tidak pernah berjuang mengusir penjajah tidak pernah terlibat memerdekakan Indonesia tidak pernah mempertahankan kemerdekaan Indonesia tinggal mengisi kemerdekaan Indonesia tetapi berjuang malah ingin merubah Negara Kesatuan Republik Indonesia dan anti terhadap demokrasi Pancasila, itu yang dimaksud dengan radikalisme yang sangat berbahaya. Itu adalah sistem kekafiran yang tidak memiliki hubungan sama sekali dengan Islam baik hubungan dekat maupun hubungan jauh bahkan demokrasi bertentangan dengan hukum-hukum Islam kelompok radikal ini sudah menular menjalar mulai dari sekolah-sekolah, ke perguruan tinggi kedokteran dosen ke TNI ada menteri yang berafiliasi kepada Hizbut Tahrir.

“Dan Seminar ini harus terus dilanjutkan sebagai tindak lanjut untuk menyeleksi orang-orang yang akan masuk ke BUMN menyeleksi setiap permintaan-permintaan siapa saja Kenapa bukan orang-orang yang duduk di komisaris Kenapa bukan tokoh-tokoh Muhammadiyah yang duduk di komisaris karena mereka inilah sesungguhnya pendiri-pendiri bangsa yang betul-betul tahu memberantas radikalisme di keseluruhan BUMN. Bayangkan jika 2 juta masjid-masjid yang terpapar oleh intoleransi dan radikal lisme, maka akan muncul nanti terorisme atas nama agama yang mana agama sesungguhnya tidak sama sekali terbebas dari itu semua. Mudah-mudahan hari ini ada tidak lanjutnya,” pungkasnya. (Putri).

Tags:
Categorised in:

No comment for Seminar Nasional : Bersihkan Radikalisme & Korupsi di Badan BUMN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *